![]() |
Source : |
Saya
teringat. Dalam dunia ‘training motivasi’ berlaku aturan ‘dunia yang
dikondisikan’. Dunia kecil yang anda masuki, sejak anda mulai melangkahkan kaki
ke meja pendaftaran sebelum memasuki ruangan tempat training motivasi
dilaksanakan.
Dimulai
dengan panitia yang dilatih untuk selalu cerah ceria harum mewangi sepanjang
masa. Yang menyambut anda dengan sapaan ramah[1], poster
dan banner di dinding dengan kata-kata motivasi yang menguatkan[2].
Hingga mc yang menyambut hadirin dan mengarahkan suasana dengan semangat dan
(lagi-lagi) ucapan kalimat terpilih. Jangan lupakan, musik yang menggelegar dan
memberi semangat.
Bahkan
sebagian[3]
pelaku bisnis training motivasi mengkondisikan trainingnya sebegitu detil,
seperti musisi yang memainkan alat musiknya. Mengatur komposisi warna, cahaya,
gambar suara, bahkan mengatur hingga berapa lama waktu yang ideal untuk diam.
Intonasi suara juga diatur.
Ada
yang memang sengaja mematikan lampu pada sesi tertentu. Untuk mengisolasi
perasaan peserta, untuk menciptakan ruang pribadi, sehingga tidak terlalu
terpengaruh oleh tatapan orang lain, karena untuk membangun motivasi diri,
memang harus dimulai dari berdamai dengan diri sendiri, dan itu susah kalau tak
bisa jujur. Dan percayalah, susah jujur bila dipelototin oleh peserta
yang lain.
Tapi
ada juga yang sengaja mematikan lampu, untuk merekayasa suasana. Musik sengaja
dipilih yang sedih, dan trainernya mulai berbicara dengan nada sedih, bahkan
terisak-isak[4].
Tidak hanya itu, kadang ada panitia yang sengaja bergabung diantara peserta,
lalu mulai ‘menangis’ sehingga menstimulasi yang lainnya untuk terbawa suasana.
Apa
semua training begitu? Setahu saya tidak semua, sebagian saja. Menyebalkan untuk diakui. Tapi mau bagaimana lagi. Kenyataan
bahwa selain mereka yang memang panggilan jiwanya ingin berbagi dan membangun
dunia lebih baik, ada juga yang yang mencari nafkah disitu. Teman saya
berpendapat hal serupa juga ada dikalangan anggota dewan. Sebagian memang ingin
berbuat bagi bangsa. Tapi ada juga yang menjadi anggota dewan itu hanya sebagai
bagian dari ‘cari nafkah[5]’.
Tapi
bukan itu yang ingan saya tuliskan. Sebenarnya saya ingin menulis mengenai satu
hal yang rumit, tapi telah menjadi kebiasaan sekarang ini.
Dunia
yang dikondisikan.
Saat
ini kenyataan yang sebenarnya kita sadari, kita hidup di dunia itu. Lihat saja
televisi, atau koran, atau bahkan social media. Semua dalam keadaan
dikondisikan.
Dulu
dimasa Indonesia berpresidenkan Pak Harto. Ada saat ketika media dikendalikan.
Departemen Penerangan, dengan cermat mengatur dan menetralkan media yang
berpotensi menyerang pemerintah. Aturannya sepertinya cukup sederhana. Yang
mengganggu pemerintah, akan diistirahatkan. Dicabut izinnya, atau medianya
ditegur, atau wartawannya di tangkap.
Kesannya
mengerikan. Tapi kenyataannya, itu semua tak seberapa dibanding sekarang.
Cara
kita melihat satu hal, dipengaruhi oleh kabar informasi yang masuk kedalam
ingatan kita. Dan disitulah dunia yang dikondisikan sekarang ini menjadi hal
berpengaruh. Dengan kekuatannya beberapa media dengan kepentingan memihak pada
pihak tertentu mulai menyajikan berita yang diatur. Beritanya benar, ada
terjadi. Tapi dengan pilihan kata atau titik fokus atau kata kunci yang diulang
berkali-kali dalam tayangannya, maka hasilnya bisa berbeda.
Memperbanyak
tanyangan gosip, yang sebenarnya tak penting. Cukup lumayan efektif mengalihkan
minat publik dari kasus korupsi pengadaan milik pemerintah. Menayangkan
sinetron kontroversial, menggeser perhatian dari debat politik soal hukum dan
sebagainya. Atau malah mengangkat satu prestasi kecil, diulang-ulang hingga
akhirnya menjadi besar, bisa menutupi kegagalan yang lebih besar tapi tidak
diberitakan.
Pengkondisian
juga dilakukan dengan banyak cara via social media. Lempar isu yang pasti
disukai dan disambar pihak lawan. Terutama kalangan bawah --bukan petinggi
partai-- yang tidak cerdas cerdik dalam manuver politik, pasti langsung merasa
dapat peluang. Share itu isu kemana-mana. Tak sadar bahwa media yang memuat isu
itu kredibilitasnya tak jelas. Lalu ketika isu itu sudah menyebar, meluas,
membahana kemana-mana. Pleek, sanggahannya dengan manis muncul.
Sederhana, tanpa panjang lebar. Dan terjebaklah para lawan.
Strategi
yang harus diakui elegan. Tapi targetnya bukan hanya itu. Target utamanya tetap
mengkondisikan informasi dan pola pikir. Sistem pemahaman terbalik. Ketika
semua tuduhan ternyata salah, maka logikanya dia adalah yang benar.
Benar
salah tidak berlaku lagi. Karena sekarang siapa yang paling banyak memposisikan
diri sebagai berita, sebagai tokoh, sebagai sisi yang dibenarkan, maka biasanya
dianggap benar. Bukan benar yang sejati, hanya dianggap. Tapi itu yang
dibutuhkan, itu yang ditargetkan.
Katakan
saja bagaimana penilaian terhadap pelaku korupsi.
Kalau
itu koruptor dari partai yang dibenci atau pihak berlawanan, mulailah istilah
koruptor digunakan, disiram cuka dengan cara menampilkan penderitaan rakyat
miskin, ditabur lada dengan mengungkit gaya hidup yang kadang tak seberapa
dibanding artis, atau secuil kemewahan yang ditiup sehingga menggembung menjadi
sangat luar biasa mewah.
Tapi
bila terjadi sebaliknya, maka istilah korupsi menjadi lebih halus. Berubah dari
korupsi menjadi ‘pelanggaran penggunaan anggaran.’
Untuk
apa dunia ini dikondisikan?
Sederhana
saja. Ada tiga hal yang mungkin ingin dicapai.
Satu,
mengubah pandangan tentang suatu hal, sesuai dengan kepentingan pihak tertentu.
Disisi lain juga mempengaruhi pemikiran dari ‘penonton’ media.
Dua,
menggeser titik fokus. Ketika sedang dibahas soal korupsi, maka mulai gencar
diberitakan tentang sinetron Keren Sih Tapi Babi Ngepet. Bisa jadi sinetronnya
memang bermasalah, tapi soal difokus habis total itu lebih bermasalah
sebenarnya, sampai kasus korupsinya terlupakan.
Tiga,
menciptakan ketidak pedulian. Masyarakat apatis, yang tak perduli, jauh lebih
menyenangkan bagi mereka yang ingin mengeruk keuntungan pribadi dari negeri
ini. Karena terlalu banyak berita buruk, terlalu banyak simpang siur, akhirnya
tak perduli lagi. Dan memang itu (lagi-lagi) yang diharapkan.
Dan
kenapa juga tulisan ini mendadak jadi seperti kolom politik di koran kelas
menengah, mendadak serius, dan berat. Baiklah, kita pada sampai disini. Semoga
tulisan selanjutnya lebih ringan.
[1]
Kata-katanya dilatih.
[2]
Kata-katanya dipilih.
[3]
Sebagian, karena sebenarnya cukup banyak para ‘trainer’ yang memang
mendedikasikan dirinya untuk berbagi semangat, berbagi motivasi, dan punya
impian untuk menjadi bagian dari gerakan membangun dunia yang lebih baik.
[4] Yang
sebenarnya hanya akting saja.
[5] Itu
sebabnya, saat pemilihan, pilihlah dengan benar dan serius. Salah pilih, maka
lima tahun kita mederita. Dan mereka lima tahun menabung untuk masa depannya.
Post a Comment